Beginilah kalau hidup di pedesaan yang belum terjangkau distribusi film dan buku. Kita susah mengikuti perkembangan film dan buku baru. Biasanya, kita mendengar munculnya film dan buku baru dari tv atau koran. Itupun sekadar review atau sinopsis. Tentu saja itu membuat rasa penasaran kita tambah mengikat-kuat di pikiran.
Contohnya, sekarang orang rame-rame membicarakan film Laskar Pelangi, malah sudah nonton di bioskop-bioskop. Dan orang sama menganggap film garapan Riri Riza itu bagus dan ekselen. Tentu ketika diperdengarkan berita ini, kita juga pengen nonton kan? Tapi kita yang tinggal di desa, tak bisa secepat itu mengikuti perubahan. Kita dapatnya belakangan. Di kemudian hari. Itu pun kalau beruntung.
Seperti contoh kasus yang baru saya alami berikut ini….
Baru saja saya selesai menonton film Kun Fayakun. Film ini sudah dirilis beberapa waktu yang lalu, tapi saya baru menikmatinya sekarang. Padahal kabar tentang film ini sudah jauh-jauh hari saya dapatkan.
Meski demikian, saya sepatutnya bersyukur, walau telat tapi tetap bisa menikmati, toh. Seperti pesan moral di film Kun Fayakun, kita harus pandai-pandai bersukur dan mendekatkan diri kepada Allah. Siapa tahu, dengan kehendak Allah, di suatu waktu di masa depan nanti, semua keluhan saya ini bisa terjawab. Informasi mudah didapat oleh siapapun dan di pelosok paling jauh sekalipun. Amien.