Arsip Tag: Mas Cahyo

3 Hari 3 Malam di Sumenep

Pelatihan CO dan Advokasi

“Menata Jam’iyah Menguatkan Jama’ah”

Di PC. Lakpesdam NU Sumenep

Selama 3 hari 3 malam aku mengikuti Pelatihan CO dan Advokasi yang diselenggarakan PC. Lakpesdam NU Sumenep pada tanggal 17-20 Desember, bertempat di Aula Kantor NU Sumenep. Pelatihan ini diikuti oleh pengurus MWC (Majelis Wakil Cabang) NU dan pengurus ranting NU dari 4 kecamatan yakni: Ambunten, Gapura, Pragaan dan Dungkek.

Tema yang diusung adalah, “Menata Jam’iyah Menguatkan Jama’ah”. Dari tema ini sudah bisa ditebak tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memperkuat basis gerakan NU di level grass root dan mengembangkan keorganisasian NU agar lebih mandiri dan bermanfaat bagi warganya.

Fasilitator pelatihan ini adalah Mas Cahyo dan Pak Wazir. Mas Cahyo adalah pentolan Pusat Pemberdayaan Masyarakat Kota (PUSDAKOTA) Surabaya; adalah seorang pendamping masyarakat perkotaan yang berpengalaman mengorganisir masyarakat dan melakukan berbagai advokasi untuk membela kepentingan masyarakat. Kapasitas dan kapabilitasnya dalam ilmu advokasi yang mumpuni merupakan pilihan tepat untuk mengisi acara pelatihan ini. Sementara pak Wazir Wicaksono adalah seorang dedengkot CO yang telah banyak dikenal di dunia pengorganisasian masyarakat. Dia aktif melakukan perngorganisasian dan advokasi hingga sekarang. Pengalamannya yang mencapai puluhan tahun tentu telah membentuk pemahaman yang dalam mengenai CO dan advokasi.

Pada pelatihan ini statusku sebagai peserta peninjau dari Biro Pengabdian Masyarakat Pondok Pesantren Annuqayah (BPM-PPA). Sebagai peserta peninjau, ada beberapa hal yang kudapatkan dari 3 hari 3 malam berproses bersama di pelatihan ini. Berikut catatan tersebut:

MALAM PERTAMA (17 Desember 2008)

Pelatihan ini dibuka oleh K.H. Abdullah Khalil, Ketua PC NU Sumenep dalam pembukaan yang dilangsungkan malam ini. Banyak peserta yang belum datang, hal ini mungkin disebabkan turunnya hujan yang sangat deras yang mengguyur seluruh wilayah Sumenep. Namun demikian acara malam ini berlangsung serius.

Sebagai pembuka, penyelenggara mengundang BPM-PPA ( yang diwakili Direktur M. Zamiel El-Muttaqien dan mantan Dewan Pengurus BPM-PPA H.A. Pandji Taufiq) untuk sharing pengalaman pengorganisasian masyarakat yang dilaksanakan BPM-PPA sejak puluhan tahun lalu.

Dalam proses ini saya lihat peserta cukup serius dan memberikan umpan balik terhadap penyajian dari 2 narasumber.

HARI PERTAMA (18 Desember 2008)

Hari ini materi yang diberikan adalah seputar Advokasi. Proses belajar Advokasi ini ditemani oleh Mas Cahyo. Dari pengamatan saya, suasana di hari pertama ini lebih semarak ketimbang semalam. Selain peserta yang datang lebih lengkap, juga teknik penyampaian fasilitator yang enak membuat peserta sangat bersemangat mengikuti proses belajar.

Dalam penyajiannya, fasilitator lebih sering membahas dasar-dasar pelaksanaan advokasi yang bagus, yakni terciptanya gerakan organisasi yang berkesinambungan dan benar-benar menyentuh persoalan: misal, peserta diajak belajar mengidentifikasi persoalan di daerah (baca: ranting) masing-masing, dan kemudian mencari solusinya.

Untuk mengoptimalkan penggalian pengalaman dari para peserta, fasilitator sering membentuk kelompok-kelompok diskusi kecil. Cara ini terbukti efektif dengan melihat antusiasme para peserta dalam kelompok kecil ini.

MALAM KEDUA (18 Desember 2008)

Rencananya malam ini nonton film, tapi gagal!

HARI KEDUA (19 Desember 2008)

Fasilitator di hari kedua adalah Pak Wazir Wicaksono, memberikan materi tentang CO (Community Organizing) atau pengorganisasian masyarakat.

Pada materi ini, para peserta diajak semakin mendalami permasalahan-permasalahan yang ada di daerahnya dan kemudian masalah-masalah tadi dicari solusinya untuk kemudian diturunkan dalam bentuk aksi/kegiatan. Peserta diajak memahami pula teknik teknik membuat kegiatan yang efektif.

MALAM KETIGA (19 Desember 2008)

Malam ini acara diisi dengan nonton film. Pertama  nonton film dokumenter Tragedi Buyat di Sulawesi, film kedua Nagabonar Jadi 2. Ternyata, bapak-bapak dan ibu-ibu macam mereka suka juga nonton film kayak gini. hehehe..

HARI KETIGA (20 Desember 2008)

Inilah hari terakhir, peserta diminta membuat rencana tindak lanjut (RTL) dari kegiatan pelatihan ini. Sesi ini dimaksudkan agar pelatihan ini bisa terasa langsung dan bermanfaat.

Peserta dibagi ke dalam kelompok berdasarkan daerahnya. Mereka diminta membuat rencana aksi dan kemudian mempresentasikan hasil di kelompok dalam forum. Dilihat dari rencana aksi mereka, ada harapan baru dalam pemberdayaan masyarakat ke depan. Harapan itu adalah tumbuhnya komitmen bersama untuk mengatasi secara bersama-sama permasalahan-permasalahan kemasyarakatan. Harapannya tentu saja, masyarakat NU di Sumenep akan lebih mandiri dan bisa meningkatkan kualitas kehidupan mereka.

Secara umum, saya mengapresiasi betul usaha-usaha seperti ini. Karena realitas kehidupan masa kini masyarakat kita menghadapi persoalan yang benar-benar pelik. Tidak semata persoalan ekonomi, tetapi juga persoalan eksistensi hidup. Penindasan yang dilakukan terhadap masyarakat sudah merasuki ranah-ranah pembunuhan karakter mereka sebagai manusia. Upaya-upaya menyuntikkan semangat dan membekali masyarakat dengan keterampilan dalam menghadapi persoalan itu adalah sesuatu yang benar-benar berharga. Semoga masyarakat kita semakin berdaya dan mampu mencapai taraf kehidupannya yang makmur.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.