Arsip Tag: Wisata Kuliner

Pecel Murah Nan Nikmat

Ini tulisan kedua tentang wisata kuliner di sekitar Pondok Pesantren Annuqayah. Pada tulisan pertama saya bercerita tentang Warung Rujak di Puncak Bukit Lancaran. Sekarang, saya akan mengajakan teman-teman untuk mengunjungi sebuah kantin yang baru dibuka namun telah terkenal di kalangan para santri, khususnya santri PPA. Latee Putera.

Kantin (baca: rumah makan) itu sebenarnya sudah lama tidak melayani santri, karena penjaganya tidak bisa melanjutkan pelayanan kepada santri. Entah karena alasan apa.

Dan beberapa saat yang lalu (kurang lebih sebulanan), tersiar kabar yang dengan cepat menyebar di kalangan santri Latee, tentang kantin yang mati suri itu kini kembali dibuka. Dengan pelayan yang baru dan layanan menu yang baru pula.

Kabar itu pertama kali saya dengar ketika sedang berkumpul dengan beberapa sahabat karib (Ghaffar, Hasyim, Izzi, Abd. Rafieq, dan Fahmi). Abd. Ghaffar berkata, “Pecelnya nikmat betuuull…”,  yang kemudian diamini oleh beberapa temanku yang lainnya. Bahkan Hasyim menambahkan, “Rasanya sama nikmatnya dengan kantin Qura di belakang kantor Madrasah Aliyah Putera itu.” Lagi-lagi hal itu diamini oleh teman-teman saya.

Nah, saya jadi penasaran. Maka ketika ada waktu luang dan  persediaan uang, saya pun berangkat ke sana.

Kantin itu terletak di tempat yang strategis; di tengah pondokan para santri. Tepatnya di sebelah barat Koperasi Latee, di belakang Rayon Al-Ghazali, di sebelah timur kamar mandi “raksasa”, dan satu atap dengan Kantin jajanan dan dapur “raksasa”.

Dengan letak yang strategis seperti itu, tentu saja para santri mudah mengaksesnya. Untuk masuk ke sana ada dua pintu yang bisa dipakai. Pintu pertama berada di utara, yang merupakan pintu masuk ke kantin jajanan pula. Untuk memesan makanan, ada sebuah lubang berbentuk kotak berukuran kurang lebih 50×70 cm. Sebenarnya ada pintu masuk di sebelah barat lubang itu, namun pintu itu langsung masuk ke dapur kantin dan khusus untuk “penjaga” kantin.

Pintu yang kedua berhadapan langsung dengan dapur raksasa, berada di sebelah selatan. Selain pintu juga ada ventilasi bukaan yang selalu terbuka lebar.

Kalau anda mau makan paling nyaman melalui pintu pertama. Di sana sudah disediakan meja khusus (istilah maduranya “Dempar”) untuk makan.

Saya masuk melalui pintu pertama itu. Kemudian memesan nasi Pecel di lubang kotak yang saya gambarkan tadi. Tak sampai lima menit, pesanan saya disajikan oleh seorang ibu manis yang merupakan salah satu dari 2 pelayan kantin. Yang satunya lagi saya lihat sibuk melayani di pintu kedua.

Saya duduk lesehan. Nasi diletakkan di atas Dempar.

Pertama kali mencicipi nasi itu, mak nyuuusss uenak banget. Nasinya pulen dan hangat. Bumbu pecelnya yang meresap di lidah langsung mengirimkan pesan ke otak saya, dan diproses di sana dalam satu gelembung ekspresi, “NIKMAAAAT”.

Memang benar apa yang diceritakan teman-teman saya itu. Nasi Pecel di sana enak banget. Tak terasa, satu piring tandas. Perut saya kenyang. Perasaan saya nyaman sekali. Puas rasanya.

Saat hendak melakukan pembayaran di lubang tadi (ah, gampangnya bilang loket aja), saya sempatkan bertanya terlebih dahulu.

“Harga nasinya berapa, bu?”

“Dua ribu, bindara,” ucap si ibu.

Dua lembar ribuan saya berikan, dan sisanya dengan cepat dikembalikan kepada saya.

Nah, kawan, saya merekomendasikan kantin ini buat kalian yang hendak berkunjung ke Annuqayah, rasa Pecelnya nikmat, dan harganya pun muraaaaah.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.